20 Desember 2010

Antara SBY, Hermawan Kertajaya, dan ITS

Seminggu luar biasa bagi Sivitas Akademika Institut Telnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sukses terlaksana. Pasalnya, selama dua hari berturut-turut, kampus perjuangan ini kedatangan dua tamu agung, Susilo Bambang Yudhoyono selaku orang nomor satu di negeri ini, serta Hermawan Kertajaya, pakar marketing internasional. What’s Next?

Bagaikan kisah Nabi Yusuf AS dengan ayahnya. Yusuf kecil yang rupawan dipisahkan dari ayahanda oleh saudaranya sendiri. Puluhan tahun Nabi Ya’kub memikirkannya. Tangisan tiap malam sebagai bentuk kerinduan yang mendalam akan sosok tampan. Kelenjar matanya kering. Sampai akhirnya beliau bertemu Yusuf dewasa telah berubah menjadi pemuda perkasa dan menteri sebuah negeri yang gagah. Pertemuan singkat itulah penghapus duka dan sumber air mata.

Begitu pula dengan dengan kisah Presiden SBY dengan ITS, kampus yang pernah menggemblengnya. Walaupun hanya sebentar, suami Ani Yudhoyono ini mengaku bagaikan pulang kampung ketika memasuki gerbang utama kampus almamater tercinta.

Tidak jauh berbeda dengan SBY, Hermawan Kartajaya, pakar marketing internasional itu pun menyampaikan hal serupa. Dia mengaku pertama kali melangkahkan kakinya di ITS pada tahun 1965. Sungguh membanggakan baginya, bisa diterima di salah satu institut teknik terbaik Indonesia. “Orang pintar ya kuliahnya di ITS,” ujar Hermawan menirukan Tan Siong Pik, Alm. Ayahnya.

Sayangnya, harapan memang tidak selalu sesuai dengan realita. Pada tahun kelima, Pencetus konsep marketing 3.0 ini harus keluar dari ITS. Bukan masalah akademik tentunya. Hermawan muda adalah sosok mahasiswa cerdas. Dengan segala keterbatasan, pengajar marketing di Pondok Pesantren Langitan ini harus membagi waktu. Bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

***

Dalam balutan tema Akselerasi Inovasi Teknologi Dalam rangka Mencapai Keunggulan Ekonomi Nasional, banyak hal yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Peran fungsi institusi pendidikan Teknologi Informasi (IT) pun menjadi fokusnya. Bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), ITS adalah garda depan pusat riset dan teknologi Indonesia.

Visinya dalam 15 tahun mendatang adalah pencapaian keunggulan ekonomi nasional. Potensi dan sumber daya alam Indonesia cukup kaya. Mulai dari potensi laut yang tak ada habisnya, hijaunya hutan yang selalu memupus, potensi tambang yang tersebar di berbagai daerah. Semua potensi luar biasa yang siap memajukan ekonomi Indonesia. Dalam hal ini, akselerasi inovasi dan teknologilah sebagai ujung tombaknya.

Tidaklah muluk kalau Presiden Indonesia ke-6 itu menaruh harapan lebih pada dua institusi teknik terbaik, ITS dan ITB. Bahkan, SBY bermimpi kedua kampus tersebut mampu bermetamorfosis seperti kampus teknologi ternama, Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat. Harapan tersebut disampaikan presiden ketika memberikan kuliah umum di Graha ITS, yang di-relay ke beberapa kampus di Indonesia, Selasa (14/12). "Saya punya harapan ITB dan ITS akan menjadi MIT-nya Indonesia," tuturnya.

"Kita berada pada peringkat 91 dari 139 negara dalam kesiapan teknologi, lalu kita berada pada peringkat 37 dalam inovasi. Padahal, ITS dan ITB belum "ngamuk" dalam teknologi," katanya. Unik memang, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono meminta dua institusi ini untuk membabi buta dalam pengembangan teknologi. Permintaan itu agar peringkat Indonesia dalam inovasi teknologi dapat terus meningkat.

Apabila Inovasi meningkat dengan menyatukan seni, kreasi, dan teknologi, maka industri kreatif dan seni kreatif juga akan mengekor. Tentunya hal ini membawa energi positif sehingga kemajuan negara kita akan cepat tercapai.

Bisa kita lihat realita, “belum mengamuk” saja Indonesia sudah diakui dunia. Sebut saja Sapu Angin ITS yang mampu menundukkan kepala universitas terbaik se-Asia. Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritim Challenge yang siap berlaga di Canada. Tim UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) ITS yang menggondol emas di Korea, sampai UKM keilmiahan yang mendapat piala melimpah. Tentunya masih banyak prestasi yang tidak mungkin disebutkan satu-satu.

Seiring dengan permintaan Presiden, Hermawan pun mendukungnya. Dalam orasi ilmiahnya saat menerima gelar Doktor Honoris Causa, Rabu (15/12), dia menjelaskan tentang strategi konsep marketing baru. Karena hubungan kausatif antara marketing, inovasi teknologi, dan pertumbuhan ekonomi nasional sangatlah erat.

Sebagaimana pepatah lama mengatakan, ilmu agama tanpa ilmu pengetahuan umum bagaikan orang pincang. Sebaliknya, ilmu umum tanpa diimbangi ilmu agama seakan buta. Sama halnya dengan ilmu marketing dan inovasi teknologi yang harus berjalan berdampingan. Marketing tanpa inovasi teknologi bagaikan seorang pincang. Sedangkan inovasi teknologi tanpa marketing akan buta. Jadi, seorang mahasiswa hendaknya mampu menyeimbangkannya.

***

Setelah berbicara panjang lebar tentang visi misi besar negara akan Akselerasi Inovasi Teknologi Dalam rangka Mencapai Keunggulan Ekonomi Nasional, serta relasi yang cukup kuat antara urgensi konsep marketing untuk mendukung hal tersebut, mari kita coba berkaca ke dalam.

ITS sebagai salah satu pilar teknologi di Indonesia sudah patut berbangga dan terus berbenah menuju ITS emas. Mempersembahkan Sains-Teknologi-Seni Untuk Kemajuan Bangsa. Hal serupa diupayakan dalam peningkatan riset dan keilmiahan seluruh sivitas akademika ITS. Termasuk didalamnya adalah dosen dan mahasiswa.

Beberapa tahun terakhir, ITS gencar-gencarnya mewujudkan misi menjadi International Research University. Segala sesuatu yang berbau riset teknologi keilmiahan pun digenjot keras. Sebut saja Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) sebagai tiket menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Dengan slogannya mengirim seribu proposal PKM, PIMNAS XII di Bali tahun 2010, ITS menduduki posisi runner up setelah Universitas Gajah Mada (UGM).

Selain itu, program mahasiswa berprestasi (Mawapres) pun tak kalah dukungan. Seluruh elemen kemahasiswaan terjun bebas ke lapangan untuk menyukseskan event itu. Mawapres Best Student Schol (MBESS) buktinya. Walaupun belum mendapat hasil yang optimal di tingkat nasional, tapi ITS optimis suatu saat akan mendapatkannya.

Business Plan dan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) juga digencarkan. Tidak tanggung-tanggung, puluhan juta rupiah akan mengalir lancar bagi para enterpreneur muda kreatif. Mata Kuliah Technopreneurship pun akhirnya mendapat perhatian khusus.

Saya rasa hal itu sudah sangat bagus, visi misi institut searah dengan nasional. Para mahasiswa yang fokus pada keilmiahan dan riset teknologi pun seakan menjadi anak emas ITS. Siapa coba, yang tidak mau menjadi anak kesayangan?

Namun hal itu sedikit tidak berimbang dengan keadaan aktivis organisasi mahasiswa (Ormawa). Kok bisa ? Sebut saja perbandingan nilai Satuan Kredit Ekstrakulikuler Mahasiswa (SKEM) yang diwajibkan untuk mahasiswa angkatan 2008 ke bawah. Dalam penilaiannya, poin SKEM untuk pengurus Ormawa masih dibawah poin kepanitiaan kegiatan, apalagi kalau dibandingkan dengan point keilmiahan. Menjadi staf Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) selama satu semester hanya mendapat 100 poin, dihargai sama seperti peserta seminar di tingkat institut. Sedangkan staf Unit Kegiatan Mahasiswa 300 point. Pastinya keilmiahan jauh lebih tinggi.

Hal lain yang cukup mencolok adalah ketika kedatangan Presiden SBY kemarin. Sebanyak 700 kursi undangan untuk mahasiswa pilihan yang aktif dalam keilmiahan dan Ormawa. Namun dengan berbagai alasan teknis, akhirnya para pimpinan ormawa tertahan dan tidak bisa mengikuti kuliah presiden.

Sangat disayangkan, puluhan undangan dari orang nomor satu Indonesia harus ditanggalkan. Lucunya, sebuah kutipan salah seorang panitia menyebutkan, tertahannya kartu identitas para aktivis dikarenakan kekhawatiran terjadinya demonstrasi saat SBY memberi kuliah umum. Karena itu mereka sengaja diberangkatkan terakhir dengan pengawasan khusus (http://kampus.okezone.com/read/2010/12/14/373/403095/373/aktivis-ormawa-its-tertahan-di-gedung-rektorat)

Padahal, kegiatan ormawa sangat mendukung dalam pembentukan softskill, termasuk keilmiahan untuk mewujudkan universitas riset dunia. Hal ini disampaikan oleh Drs. Suko Hardjono, MS., Apt selaku dewan juri Mawapres nasional selama beberapa tahun terakhir. Softskill dan hardskill hendaknya berjalan beriringan, dan saling menguatkan.

Imajinasi pun melayang-layang. Bagaimana seandainya di masa depan ormawa selalu ditekan, sedangkan hanya keilmiahan yang digencarkan. Kalau keduanya saling mendukung, pastinya akselerasi inovasi teknologi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional seperti yang dicita-citakan pun semakin mendekat. Semoga bermanfaat.

Hanif Azhar
Mahasiswa Desain Produk Industri

10 Desember 2010

CAK dan CUK


Cerdas, Amanah, dan Kreatif (CAK), jargon umum mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu bukan hanya sebuah label. Sebagaimana sebuah rangkaian nama indah yang diberikan orang tua kepada buah hatinya, label itu pun merupakan doa. Lebih dari itu, tanggung jawab besar menanti kita, Cak!

Sebagai maba (mahasiswa basi, red), saya mungkin masih harus beradaptasi dengan jargon yang relatif baru tersebut. Karena ketika saya masuk kampus perjuangan, tepatnya pertengahan tahun 2008, ITS masih memakai jargon lamanya, yaitu Cerdas, Ulet, Kreatif. Tiga kata tersebut biasa disingkat dengan CUK.

CUK sendiri merupakan kata khas Surabaya yang sangat familiar diucapkan oleh mahasiswa ITS pada umumnya. Bahkan, banyak teman yang berasal dari luar Jawa ikut-ikutan menjadikan cuk sebagai bahasa kesehariannya. Aneh, seperti ada sesuatu yang ganjil ketika mereka sok-sokan berlagak menjadi arek Suroboyo. Jadi ingat kata-kata cak Suro Si Ikin Gatotkaca Studio, “kupingku rasane disogrok Tugu Pahlawan.”

Selain itu, cuk ternyata mempunyai makna yang condong ke arah negatif. Bahasa kasarnya, termasuk dalam klasifikasi kata-kata pisuhan khas Suroboyo. Namun, ada pula yang berdalih kalau ini merupakan salah satu kebudayaan lokal yang patut dilestarikan. Mungkin hal inilah salah satu faktor yang mengubah jargon ITS dari CUK menjadi CAK.

Di dalam American Marketing Association, Kotler mengatakan bahwa label merupakan nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari keseluruhannya yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari penjual atau sekelompok penjual, agar dapat dibedakan dari kompetitornya. Kata dosen mata kuliah marketing saya, Joko Kuswanto, MT, kekuatan label itu sangat berpengaruh dan mampu menyetir mindset orang lain.

Terlepas dari itu semua, label CAK bukanlah sembarang label. Banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai tersebut seharusnya tertanam dalam hati sanubari setiap sivitas akademika ITS pada umumnya. Tidak hanya mahasiswa, dosen pun seharusnya meresapi dalam-dalam makna CAK sesungguhnya, sehingga mampu menjadi teladan yang baik untuk mahasiswanya. Beberapa nilai CAK yang saya ambil dari Deskripsi Model Pendidikan Karakter Bangsa di ITS diantaranya adalah :

1. Etika dan Intregitas
Dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, beragama, maupun dalam menjalankan profesinya, Seorang yang cerdas-amanah-kreatif selalu berpegang teguh pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, negara, dan agama. Marilah berusaha menjaga amanah ini supaya jangan sampai label cak menjadi negatif karena etika dan ulah minoritas.

2. Kreativitas dan Inovasi
Mahasiswa yang kreatif tentunya selalu mencari ide-ide segar yang mampu menghasilkan inovasi dalam mengerjakan tugas dan menjalankan perannya dengan baik.

3. Ekselensi
Dengan ekselensi, seseorang akan berusaha secara maksimal untuk mencapai hasil yang sempurna. Walaupun kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, namun sebagai makhluk hendaknya selalu berusaha yang terbaik dalam setiap aksinya.

4. Kepemimpinan yang kuat
Kepemimpinan yang kuat akan menunjukkan prilaku yang visioner, kreatif, inovatif, pekerja keras, berani melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu, mereka juga harus bertanggungjawab dengan segala tindakannya.

5. Sinergi
Mampu bekerjasama untuk dapat memanfaatkan semaksimal mungkin potensi yang dimiliki.

6. Kebersamaan dan tanggung jawab sosial
Mampu menjaga kerukunan dan peduli terhadap masyarakat sekitar. Sebuah tanggung jawab sosial yang cukup berat untuk seorang berlabel CAK. Karena mereka akan dituntut menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya.

Mungkin masih banyak lagi nilai yang terkandung di dalam tiga kata sederhana itu. Dengan jargon CAK, sivitas akademika ITS diharapkan mempunyai karakter yang amanah dalam menjalankan tugasnya, mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sekitar. Dan yang pasti, hendaknya memunyai mindset dan tindakan yang cerdas dan kreatif.

Pernah saya berbincang dengan seorang dosen TKK jurusan saya. Saya terkejut mendengar fakta bahwa setiap mahasiswa ITS (dan perguruan tinggi negeri pada umumnya) itu mendapat subsidi sampai Rp 20.000.000,- per tahun. Itu bukanlah angka yang kecil, apalagi bagi saya yang notabenenya rakyat jelata yang setiap hari makan seadanya saja.

Sungguh bukanlah tergolong orang yang pandai bersyukur apabila kita tidak mengoptimalkan semua nikmat itu. Karena cara terbaik untuk mensyukuri nikmat adalah dengan mengoptimalkannya sesuai dengan batas maksimal kemampuan kita. Dengan terus berkreasi, berinovasi, berprestasi, dan berkarya di bidangnya masing-masing.

Ketika saya bertemu beberapa senior yang belum lulus lebih dari waktu normal yang ditentukan, ada rasa seneng dan senep. Senang? ya, bangga bagi mereka yang belum bisa lulus dari target waktu standar karena alasan logis dan membanggakan. Di antaranya mungkin cuti karena harus bekerja dan membantu orang tua. Beberapa mungkin masih bergelut dalam organisasi mahasiswa. Bangga bagi mereka yang mampu menebar benih positif di kampus tercinta.

Senep? ya, senep bagi mereka yang belum menyadari bahwa subsidi Rp 20.000.000,- itu bisa lebih bermanfaat bagi orang lain di luar sana. Jutaan lulusan SMA yang ngebet masuk perguruan tinggi itu bersaing habis-habisan. Tapi orang-orang yang (maaf) kurang amanah ini tetap bersikukuh tanpa keperluan penting di kampus. Semoga kita tidak termasuk bagian di dalam golongan kedua. Amin !


***
Berbicara tentang aplikasi Cerdas Amanah Kreatif, mahasiswa ITS sudah cukup untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan kampus. Mereka punya potensi untuk berkarya. Mereka punya inovasi untuk berbangga. Sebut saja Sapu Angin yang mampu menundukkan kepala universitas-universitas terbaik se-Asia. Atau tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritim Challenge yang siap berlaga di Canada. Semua itu tidak terlepas dari usaha kita, arek ITS, cak!

Sampai penulis mempublikasikan tulisan ini, rentetan prestasi pun terus mengharumkan nama ITS baik di kanca lokal maupun internasional. Mulai dari kemenangan tim UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) ITS yang menggondol emas di Korea, sampai UKM keilmiahan yang mendapat juara keilmiahan di Universitas Padjajaran. Dan tentunya masih banyak lagi prestasi yang tidak mungkin disebutkan satu-satu.

Sebagai bagian dari mahasiswa yang berlabel CAK, saya pun bertanya pada diri pribadi, “Apakah kita sudah mampu mengaplikasikan CAK dalam kehidupan sehari-hari?,” pertanyaan singkat dan berat. Saya mungkin belum optimal dalam apikasi CAK. Penulis sama seperti pembaca, seorang pembelajar yang terus berusaha menemukan pola untuk mengaplikasikan CAK dalam bidangnya. Mari kita semua berusaha seoptimal mungkin untuk mencapainya. Demi almamater, bangsa, dan negara. Untuk mewujudkan Indonesia emas yang bermartabat di masa depan.
Semoga Bermanfaat !

Hanif Azhar
Mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri
Tulisan ini terinspirasi dari Sarasehan Pendidikan Karakter Bangsa di ITS, Selasa (30/11)

4 September 2010

SKEM dan Miniatur Kuliah Kehidupan


Seminggu lalu, ketika masih dalam masa perwalian dan pengisian Formulir Rencana Studi (FRS) Online, tampak fenomena langka yang baru saya temui selama dua tahun kuliah di kampus perjuangan. Ratusan mahasiswa berbondong-bondong pergi ke kampus dengan membawa bundelan sertifikat. Proses FRS pun semakin lama. Karena mereka harus mengantri untuk menyodorkan sertifikatnya satu-satu. Ada apa gerangan?

Satuan Kredit Ekstrakulikuler Mahasiswa (SKEM) merupakan salah satu inovasi baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk melatih soft skill mahasiswanya. Sebenarnya, sistem ini sudah dicanangkan ketika status saya masih mahasiswa baru, dua tahun lalu. Penampakan gagasan baru tersebut tentunya menuai banyak kontroversi, baik di kalangan mahasiswa maupun staf pengajar.

Bagi mahasiswa yang memang sudah berjiwa aktivis dari sono-nya, pemberlakuan SKEM dirasa cukup efektif untuk merangsang soft skill mahasiswa ITS. Dengan sistem ini, secara tidak langsung mahasiswa angkatan 2008 ke bawah akan dipacu untuk berkompetisi dari berbagai macam lomba dan aktif dalam forum ilmiah. Selain itu, mereka akan semakin terampil dan tidak hanya berbekal hard skill untuk menapaki dunia nyata setelah dilantik lulus dari almamaternya.

Erik Sugianto, salah seorang sahabat saya berpendapat bahwa tuntutan mahasiswa untuk memenuhi SKEM itu sangatlah mudah. Bagaimana tidak, batas minimal untuk memenuhi standar hanyalah 1000 poin. Sedangkan, hanya dengan mengikuti sebuah seminar saja sudah mendapatkan secarik sertifikat yang bernilai 200 poin. Jadi hanya dengan mengikuti 5 seminar saja, sudah cukup untuk menutup kewajiban ber-SKEM ria.

Belum lagi kalau mengikuti pelatihan pengembangan diri seperti LKMM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Banyak jalan menuju standardisasi SKEM. Apapun kegiatan yang kita lakukan pasti bernilai SKEM. Kalau pihak birokrasi benar-benar berniat mengasah soft skill mahasiswanya, semoga standardisasi ini bisa lebih ditingkatkan,” ungkap Ketua Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Jurusan (FSLDJ) Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI).

Anggukan kepala juga dilontarkan oleh senior saya, Tyzha Inandia, salah seorang mahasiswi Desain Produk Industri angkatan 2007. Menurutnya, SKEM memang dibutuhkan oleh mahasiswa. Sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang menyadarinya.

Oleh sebab itu, mungkin bagi aktivis sejati tak kan keberatan dengan hal tersebut, bahkan mungkin banyak yang menilai standardisasinya masih cukup rendah sebagaimana yang diungkapkan Erik Sugianto di atas. Tapi, bagi mahasiswa tipe kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) mungkin SKEM bagaikan tas punggung berbobot 10 Kg yang harus dibawanya selama kuliah.

“Intinya, saya optimis SKEM akan mengoptimalkan soft skill mahasiswa. Semuanya pasti terbiasa karena terpaksa. Saya acungi jempol untuk inovasi birokrasi yang satu ini,” ujar Tyzha, Sekretaris Himpunan Mahasiswa Desain Produk Industri (HIMA IDE) 2009/2010 itu.

Sebagai seorang pelajar, sepatutnya tugas utama adalah belajar. Mulai dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi sekalipun, belajar tetaplah harus diutamakan. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin kompleks pula tingkatan yang harus dipelajarinya.

Apalagi kita di sini yang sudah menyandang status sebagai mahasiswa, pengetahuan berbagai bidang harus senantiasa di-upgrade. Dari kata-katanya saja sudah bisa ditebak, mahasiswa itu mengandung makna dan tanggung jawab jauh lebih besar dibandingkan dengan siswa. Sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang menyadari akan peran dan fungsi utama mereka sebagai mahasiswa.

Tidak sedikit mind set bahwa proses belajar seorang pelajar hanyalah sebatas upgrade kemampuan akademik saja. Sungguh ironis mahasiswa yang masih berpikiran seperti itu.
Di samping itu, masih banyak mahasiswa yang berpikiran sempit. Berpikir bahwa proses belajar mereka hanyalah terlaksana di dalam ruang kelas. Secara tidak langsung, mereka membatasi diri mereka sendiri dari dunia luar.

Mereka menutup mata, telinga dari permasalahan sekitarnya. Minimal mahasiswa itu mampu mengaktualisasikan dirinya di lingkungan. Dengan tidak membatasi proses belajar mereka, dengan mengorek info dari kampus sendiri ke kampus tetangga.

Sebenarnya, Belajar adalah sebuah proses yang sangat luas. Belajar itu tidak dapat dibatasi oleh dimensi waktu dan tempat. Kita bisa belajar dimanapun dan kapanpun kita mau. Bahkan siapapun itu, jika kita jeli pasti mampu mengambil pelajaran berharga dari semua orang.

Lucunya, mahasiswa kebanyakan hanya fokus pada akademik dan gencar dalam mengejar status sarjana. Apalah arti secarik ijazah dan sebuah gelar berjejer layaknya rangkaian kereta. Toh, pada akhirnya gelar kita nantinya tetaplah sama, yaitu almarhum (alm). Ijazah hanyalah selembar kertas, tapi esensi di balik itu semua adalah bagaimana kita mampu berkontribusi dan mengamalkannya. Jangan sampai menjadi sarjana mandul yang tidak mampu berbuah manis dan bermanfaat untuk sesama
Andai Softskill dan Hard skill Berjalan Bergandeng Tangan

Keahlian lunak ini di antaranya motivasi tinggi, kemampuan beradaptasi dengan perubahan, kompetensi interpersonal, dan orientasi nilai yang menunjukkan kinerja efektif. Fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian National Association of Colleges and Employers (NACE) yang menyebutkan bahwa pada umumnya pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82 soft skills dan selebihnya 18 hard skills.

Hal tersebut bukan isapan jempol belaka. Dalam buku Lesson From The Top karya Neff dan Citrin, tersibak bahwa sebanyak 50 orang CEO dari berbagai perusahaan, menyebut pentingnya memiliki keterampilan lunak sebagai syarat sukses di dunia kerja. Beberapa orang CEO tersebut di antaranya Jack Welch (General Electric), Bill Gates (Microsoft), Andy Grove (Intel),dan Michael Dell (Dell).

Soft skill yang berperan penting dalam kesuksesan itu seperti gairah, kemampuan berkomunikasi, kesehatan dan energi tinggi, kecerdasan spiritual, kreatif, bersikap positif, dan fokus. Di samping tentunya unsur intellegence quotient (IQ) yang tak kalah berperan. Maka keberadaan materi soft skill di perguruan tinggi harus diadakan.

Tapi faktanya, kemampuan hard skill tetaplah penting. Kemampuan antara keduanya hendaklah berimbang, tidak berat sebelah. Karena tidak sedikit aktivis mahasiswa yang tersandung masalah akademik. Begitu juga sebaliknya, banyak para mahasiswa akademisi yang terlalu sibuk dengan mengejar akademik saja, akhirnya tidak peka terhadap keadaan lingkungan sekitar.

Sungguh luar biasa, apabila sudah banyak mahasiswa yang menyadari akan pentingnya kedua hal tersebut. Menyeimbangkan hard skill dan soft skill untuk menjadi aktivis prestatif sehingga menghasilkan bibit-bibit unggul pencetak sejarah. Indonesia hanya menunggu masa kejayaan kembali kalau hal itu sudah dicapai.

Banyak cara yang bisa diaplikasikan untuk mencapai keseimbangan dua keahlian tersebut. Salah satunya adalah dengan 3M: mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. teori itu terasa simpel dalam pengucapan, namun buktinya cukup sulit dalam penerapan.

Ada pepatah mengatakan, seribu langkah besar pasti diawali dengan satu langkah kecil. Dengan satu langkah kecil yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan, seribu langkah besar pasti tercapai. Begitu pula dalam mengejar soft skill, kita bisa memupuknya dari hal-hal kecil juga. Misalnya dengan mengembangkan kerjasama tim dalam tugas kuliah maupun permainan olahraga.

Sebelum kita mengajak seseorang untuk melakukan perubahan, terlebih dahulu ubahlah diri kita. Mari kita buat diri kita menjadi lebih baik dan role model untuk orang-orang di sekitar kita. Tak peduli status dan tingkatan seseorang, apabila dia belum mampu mengatur diri sendiri, tidak mungkin dia mampu mengatur orang lain.

"M" terakhir, mulailah dari sekarang. Disinilah konsistensi seseorang diuji. Banyak orang mempunyai planning dan mimpi besar, tapi realisasi masih dipertanyakan. Salah satu penyakit pengganjalnya adalah rasa takut dan malas. Oleh sebab itu, kalau kita sudah berani bermimpi besar, maka mulailah menyusun planning dan strategi dari sekarang. Jangan ditunda-tunda lagi. Karena dengan terus menunda, otomatis hal itu akan menumpuk di belakang dan akhirnya jadi malas menjalankannya.

Universitas terbesar adalah kehidupan

Dari berbagai pemaparan di atas, mahasiswa memang memunyai peran strategis yang sangat luas. Peran tersebut akan sukses dalam pencapaian apabila soft skill dan hard skill mampu berjalan harmonis, beriringan, dan bergandengan tangan. Keduanya akan saling melengkapi dan menjadikan hidup lebih bermakna. Kalau hard skill bisa kita raih dalam kurikulum akademik perkuliahan, maka soft skill dapat kita raih dengan mengasah kemampuan di luar akademik.

Namun, mungkin belum banyak yang menyadari bahwa sebenarnya universitas terbesar di dunia adalah kehidupan itu sendiri. Kok bisa ? Tentu saja, semua kekompleksan dari kolaborasi soft skill dan hard skill tertuang di sana. Dengan mengenyam banyak pengalaman dan mencicipi gula-garam kehidupan, seseorang akan semakin bijaksana dalam pemikiran dan pengambilan keputusan.

4 prinsip kuliah kehidupan


1. Semua tempat adalah ruang kuliah

Namanya juga universitas kehidupan, tempatnya pun bisa dimanapun. Di dalam ruang kelas ber-AC bisa, di daerah tempat pembuangan sampah pun tidak masalah. Bahkan di kolong jembatan tempat perumahan kumuh pun kita bisa mengambil banyak pelajaran. Minimal kita mampu belajar untuk bersyukur jika mendatangi tempat-tempat seperti itu.


2. Semua orang bisa menjadi guru yang handal

Dalam universitas kehidupan, semua orang ternyata bisa menjdi pengajar. Apapun status dan latar belakangnya, semua makhluk ciptaan-Nya adalah unik dan menyimpan banyak potensi. Tidak peduli entah itu presiden maupun pelayan, semua adalah manusia yang masih mengalami proses belajar.


3. Semua permasalahan adalah mata kuliah kita

Poin ini terdengar lucu, namun itulah faktanya. Dengan mendapat masalah, seseorang dituntut untuk berpikir kritis dan mencari jalan keluar. Semua ini akan menjadikannya lebih dewasa dan bijaksana dari sebelumnya. Oleh sebab itu, bersyukurlah kalau kita mendapat masalah. Tetaplah tanamkan pemikiran positif bahwa masalah adalah berkah. Masalah itu bukti cinta Allah kepada kita. Itulah cara Allah untuk mendidik kita.


4. Kurikulum road map individu

Poin terakhir dalam universitas kehidupan adalah road map individu. Setiap manusia harus mempunyai tujuan hidup masing-masing. Mereka harus berusaha meraih mimpi-mimpi itu sekuat tenaga. Setelah memfokuskan pada tujuan yang ingin dicapai, hal yang tidak kalah penting adalah road map individu. Anthony Robbins pernah berpesan, In order to success, you must have a long term focus.

Road map individu adalah peta fokus yang membawa kita pada kesuksesan. Kalau Dora harus berteman dengan peta untuk mencapai tempat tujuan, Captain Jack Sparrow membutuhkan peta misterius untuk menuju harta karun, maka kita pun jangan mau kalah. Mari buat road map individu supaya jalan yang kita tempuh untuk meraih cita tidak nyasar.

(Opini ini terinspirasi dari Dialog Pasca Kampus dengan Prof. Dr. Imam Mustofa, Direktur Kemahasiswaan Uiversitas Airlangga)

tulisan ini juga pernah dimuat di web ITS Online www.its.ac.id pada Sabtu, 4 September 2010